English Course Commences for New SEARCA Scholars

Los Banos, 25 July 2019 — Reported by Zacyl R Jalotjot (searca.org)

Seventeen new SEARCA scholars are participating in an English Course which will run until 30 July 2019. The scholars come from Cambodia (1), Indonesia (5), Lao PDR (1), Myanmar (1), Philippines (2), Timor Leste (4), and Vietnam (3). The course covers four modules: Writing and Grammar, Conversations for Social and Academic Situations including Oral Reports/Presentations, Pronunciation Improvement, and Reading and Vocabulary Enrichment.

During the opening program last 17 July, Dr. Glenn B. Gregorio, SEARCA Director, expressed his warm welcome to the participants and lecturers of the course. He also pointed out in his message, “that this is only a crash course or a basic training. You must continuously practice communicating in English after the course so that you may reap and maximize its benefits.”

The training is conducted by a team led by Prof. Emerita P. Cervantes, a retired Assistant Professor from the University of the Philippines Los Baños where she also served as Head of the English Division and Coordinator of the Language Instruction Towards Excellence (LITE) Program of the College of Arts and Sciences. Her team has been the technical service provider for the Basic English Course for SEARCA’s incoming scholars since 2016.

The English Course is offered annually by SEARCA’s Graduate Education and Institutional Development Department (GEIDD) for new SEARCA scholars to boost their language proficiency and prepare them for their graduate studies.

Foto Opening Ceremony

in the classroom

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Prototipe Pengembangan Pulau Wawonii, Sulawesi Tenggara sebagai Pusat Pertumbuhan Baru yang Terintegrasi dan Berkelanjutan; Catatan Pinggir

Tangerang, 16 Juli 2019.

Harus kita akui bahwa hampir setiap kegiatan produksi dan konsumsi tidak bisa dilepaskan dari eksistensi sumberdaya alam dan lingkungan biofisik.  Berbagai produk dan jasa yang kita butuhkan dan perlukan bersumber dari kedua subsistem tersebut. Oleh sebab itu, pada hakikatnya aktivitas ekonomi hampir tidak dapat dipisahkan dari alam atau lingkungan (Titenberg, T & Lewis, L, 2009). Dari lingkungan biofisik, beragam aktivitas ekonomi mendapat suply bahan baku, sumber energi, air, udara dan juga jasa lingkungan.  Input seperti ini setelah ditambah dengan input tenaga kerja dan modal pada akhirnya menghasilkan beragam produk dan jasa yang menjadi kebutuhan manusia. Namun demikian, pemanfaatan sumberdaya alam yang berlebihan (overuse) akan mengakibatkan kelangkaan (scarcity) yang pada akhirnya bermuara pada timbulnya sejumlah isu dan permasalahan terkait dengan keberlanjutan pemanfaatan sumberdaya alam dan jasa lingkungan dimaksud.

Lingkungan selain memasok kebutuhan kegiatan produksi dan konsumsi, juga menjadi tempat membuang berbagai sisa dari kedua aktivitas dimaksud yang sebagian besar bersifat merusak. Kondisi ini pada tahap tertentu mengurangi kesejahteraan (welfare) manusia serta kemampuan lingkungan untuk menyediakan berbagai kebutuhan manusia. Meski hingga tingkat tertentu, lingkungan memiliki daya atau kapasitas tampung terhadap berbagai sisa atau buangan, namun seiring dengan meningkatnya kegiatan manusia yang sifatnya destruktif serta meningkatnya kuantitas limbah yang dihasilkan, akibatnya selain mengancam ketersediaan sumberdaya alam juga mengurangi kualitas lingkungan hidup.

Sebagai Daerah Otonom Baru, Pemerintah dan Masyarakat Kabupaten Wawonii perlu untuk segera mengambil sikap terkait dengan orientasi pembangunan di masa yang akan datang. Selain karena secara biogeografi kabupaten ini termasuk pulau kecil dengan sumberdaya alam dan daya dukung  serta daya tampung lingkungan terbatas, juga karena potensi pertumbuhan penduduk yang juga tinggi. Oleh sebab itu, setiap keputusan pembangunan harus berorientasi pada prinsip 4P, yaitu pro-growth, pro-job, pro-poordan pro-environmentyang dikemas secara integratif agar berkelanjutan. Dari dimensi lingkungan, setiap pilihan kebijakan pembangunan harus mampu mengatur kegiatan ekstraksi sumberdaya alam, meminimalisir limbah, mencegah terjadinya pencemaran, melindungi keanekaragaman hayati termasuk konservasi sumberdaya.

 

SIKAP DAN HARAPAN MASYARAKAT TERHADAP PROTOTIPE PENGEMBANGAN PULAU WAWONII SEBAGAI PUSAT PERTUMBUHAN BARU SECARA TERINTEGRASI DAN BERKELANJUTAN

Saat ini masyarakat Wawonii secara umum tidak menghendaki hadirnya kegiatan ekonomi yang sifatnya destruktif ekstraktif dan padat modal, sebab selain akan banyak mengubah bentang alam yang jelas berdampak terhadap keberlanjutan pemanfaatan masyarakat terhadap sumberdaya alam vital seperti air dan tanah, manfaat aktvitas ekonomi dimaksud pada pembentukan kesejahteraan mereka belum jelas dan tidak berkeadilan.  Masyarakat cenderung lebih memilih untuk mengembangkan sektor-sektor produktif berbasis pada keunggulan lokal historis Pulau Wawonii seperti perikanan, pertanian terpadu ditambah dengan pariwisata berkelanjutan. Mereka tidak alergi dengan investasi, tetapi mereka harus terlibat sebagai ‘pemegang saham’ atau shareholders, bukan hanya sebagai tenaga kasar.

Harapan mereka adalah agar Pulau Wawonii dapat tumbuh dan berkembang dengan memusatkan energi dan perhatian pada pengembangan tiga sektor di atas secara terintegrasi dan berkelanjutan. Setiap pilihan atau keputusan pembangunan sedapat mungkin didasarkan pada daya dukung dan daya tampung lingkungan agar mereka dapat terhindar dari bencana ekologis, serta agar dapat terus memperoleh input alam bagi setiap bentuk kegiatan produksi dan konsumsi mereka. Atau dengan kata lain, pembangunan di Pulau Wawonii jangan sampai mengkompromikan kesejahteraan lintas generasi (non-declining welfare) dimana kesejahteraan tersebut setidaknya bisa sama bahkan harus ditingkatkan di setiap tingkatan generasi Wawonii. Selain itu, mereka juga berharap agar dapat berdaulat atas natural capitaldan asset yang mereka miliki.

Pada sektor perikanan dan kelautan, masyarakat Wawonii memilih untuk mengoptimalkan potensi perikanan tangkap baik pelagis maupun demersal serta budidaya kepiting dan rumput laut. Dalam pelaksanaannya mereka juga menghendaki adanya praktek konservasi berupa pengaturan kuota tangkapan sumberdaya ikan dan non-ikan. Pada sektor pertanian terpadu, harapan mereka adalah penggunaan bibit lokal Wawonii yang telah tersertifikasi dan tahan terhadap variabilitas iklim, pengurangan ketergantungan terhadap penggunaan pupuk sintetis/kimiawi, pengembangan ternak besar (sapi) secara semi modern yang memperhatikan aspek konservasi lahan dan pengelolaan Gas Rumah Kaca (contoh gas metan) dari sisa atau buangan urine serta kotoran ternak, dan pengaturan pemanfaatan sumberdaya air untuk kebutuhan pertanian.

Pada sektor pariwisata, masyarakat berharap ada perhatian lebih dan serius pada produksi dan penanganan sampah plastik, limbah domestik baik cair dan padat serta penanganan praktek destructive fishingyang kesemuanya dapat mengurangi animo wisatawan untuk terus berkunjung ke Pulau Wawonii.

(Bersambung)

The Call from The Sea, a Documentary Film by Taylor McNulty

The Bajau are a sea nomadic group who have lived on the ocean for centuries. This short documentary addresses the future of our oceans and what we are leaving behind. It is a personal and poetic story about life as a Bajau and how our actions affect their world in Indonesia, thousands of miles away from the US. It has played in over 50 film festivals worldwide and in 15 countries. © 2016 by Taylor McNulty.

Three Books Examine Our Changing Earth *)

THE LAST WHALERS
Three Years in the Far Pacific With a Courageous Tribe and a Vanishing Way of Life
By Doug Bock Clark

Our best bet for slowing down the planetary extinction we have set in motion is to focus on the collective. When we finally realize that we are in this together, that is when we will move away from our insatiable appetite for more. But we have precious few models that illustrate just what it means to know and act together, as a larger unit. Clark — in his vital, immersive and elegant debut — presents us with one such example: the Lamalerans, an ancient tribal society that has survived and thrived by working together to hunt t

05 BKS Short1 jumbohe massive sperm whales that migrate through Indonesia’s Savu Sea every summer.

And yet, like so much else at this moment, Lamaleran society is being threatened from all sides — by the rise of commercial fishing operations, the decline of the very animals they depend upon, politicians who value economic growth above all else and the desire of tribal youth (in particular the girls) for a life with fewer restrictions. With glittering prose and a novelist’s knack for storytelling, Clark carries readers to the heart of this community as they try to manage and adapt to the tidal wave of change that has recently arrived on their shore, asking: Who do we want to become, and what can we do to arrive intact at that precarious future?

Reminiscent of Anne Fadiman’s “The Spirit Catches You and You Fall Down,” Clark’s book intimately details, with empathy and grace, the tribe’s value system and the physical world on which they depend. Here hunters’ shadows dull “the sunlight glittering on the whale’s sea-glossed back” as the animal prepares to surrender and make of itself a “Gift of the Ancestors.” We often think of indigenous groups as living in remote locations, on the edges of the modern world, but Clark reverses this proposition, using the stories of these whalers to help us understand just what it looks like when the earth reaches carrying capacity and how humans might in turn respond. 347 pp. Little, Brown. $30.

THE END OF ICE
Bearing Witness and Finding Meaning in the Path of Climate Disruption
By Dahr Jamail

05 BKS Short2 superJumboOur current environmental crisis is often described in language that makes it hard to appreciate the transformations already underway and the role we played in them. For Jamail, “climate change” is too ambiguous a term; he prefers “anthropogenic climate disruption,” which emphasizes human agency while also noting just how unusual it is for a single species to cause such havoc, making the earth uninhabitable for many.

In “The End of Ice,” Jamail, an avid mountaineer, and former war reporter, visits a handful of different environments being impacted by anthropogenic climate disruption, or whatever you want to call it — from the heights of Denali to the heart of the Amazon — hoping to “bring home … the urgency of our planetary crisis through firsthand accounts.” He recalls his conversations with a wide cast of characters from coral ecologists in Guam to indigenous residents of Utqiagvik, the northernmost town in the United States. Each in his or her own right bears witness to the ways in which the places they study and depend upon are already coming undone.

Jamail, and his adventurer’s attraction to far-flung locations helps hold this string of reporting trips together. Toward the end of the book he suggests that we must sit with our grief for the ever-diminishing planet; to understand how to proceed, we must acknowledge what we have lost and what we will continue to lose. Perhaps what brings him to this place of great mourning is his regular engagement with the “worst case scenarios” buried deep in the pages of the official reports. Too often climate coverage errs on the cautious side, suggesting that this or that may come to pass. “The End of Ice” illustrates with an almost overwhelming string of statistics that for many of the world’s glaciers, coral reefs, and ancient forests, the end is already here. 257 pp. New Press. $25.99.

EMPTY PLANET
The Shock of Global Population Decline
By Darrell Bricker and John Ibbitson

05 BKS Short3 superJumboDemographers and ecologists alike have long warned of the coming “population bomb,” when the sheer number of human beings on the planet will outstrip agricultural production, leading to widespread famine and Malthusian collapse. But according to Bricker and Ibbitson, this imagined future will not arrive. The earth is indeed perched at a tipping point, but not the one often envisioned. “Our future will contain something we have never experienced: a world growing small in numbers by choice,” they write in “Empty Planet,” an ambitious reimagining of our demographic future.

They argue that urbanization and the attendant access to education for women that often accompanies such shifts will cause the earth’s population to begin shrinking in the middle of this century. This fundamental change is bound to restructure societies in surprising and destabilizing ways. With fewer young people working and consuming, economies will stagnate, state coffers will suffer and innovation will slow. For Bricker (chief executive of the research firm Ipsos Public Affairs) and Ibbitson (a journalist at The Globe and Mail), immigration is key to keeping countries with dwindling demographics competitive. In the most compelling sections of this book, the authors tie the United States’ ability to maintain its position of global economic dominance in the coming century to the country’s immigrants and the demographic advantage they supply.

Too easily set aside in “Empty Planet” is the interplay between humans and the more-than-human world of which we are apart. At one point the authors suggest that we are “chugging along” just fine with seven billion inhabitants, a finding that the overwhelming majority of scientists would rebuke. A world with fewer inhabitants may or may not be in our collective future. But whether that future will be one we want to inhabit depends largely on our willingness to actively shape the present. 288 pp. Crown. $26.

*) This writing is directly copied from climatechange.searc.org.

PENJELASAN atas waktu pelaksanaan ujian dua Mata Kuliah yang BERTABRAKAN untuk Kelas Kehutanan

Teman-teman Kelas Kehutanan yang saya hormati,

Beberapa waktu lalu, saya mendapatkan pesan Whatsapp yang menyatakan bahwa jadual UTS MK Wawasan Kemaritiman dan MK Perlindungan ‘bertabrakan”. Sebetulnya kasus ini bukan kesalahan kalian, melainkan kelalaian pihak jurusan dalam mengatur jadual ujian khususnya untuk MK semester “atas” yang diprogramkan oleh angkatan 2018 atau MK semester “bawah” yang diprogramkan oleh angkatan 2017 ke bawah. Oleh karena waktu kami juga yang sangat terbatas, maka untuk UTS Online dari saya, KEPUTUSAN saya adalah sebagai berikut:

  1. Bagi Angkatan 2018, wajib untuk mengikuti UTS MK Wawasan Kemaritiman tanpa terkecuali sebab MK ini adalah MK yang memang terdaftar di semester II. Bagi angkatan 2018 yang juga memprogramkan MK Perlindungan, maka sangat diharapkan untuk meminta kebijaksanaan pada dosen yang mengampu MK dimaksud;
  2. Bagi angkatan 2018 yang akan mengikuti UTS MK Wawasan Kemaritiman besok pagi, disarankan mengerjakan soal melalui Laptop atau Notebook. Mengerjakannya lewat HP juga diperkenankan.
  3. Bagi Angkatan 2017, wajib untuk mengikuti UTS Perlindungan tanpa terkecuali sebab MK tersebut adalah MK yang memang terdaftar di semester IV. DENGAN DEMIKIAN, khusus untuk angkatan 2017, akan ada UTS susulan dari saya Insya Allah. Adapun waktu dan tempatnya akan saya umumkan kemudian.

Demikian dan terima kasih, semoga dapat dijalankan dengan baik dan dimaklumi adanya.

Petunjuk Teknis Pelaksanaan UTS MK Wawasan Kemaritiman Kelas Kehutanan

Pertama-tama, saya mengucapkan Barokallahu Fiikum kepada teman-teman yang sejak kemarin pagi mengikuti Ujian Tengah Semester (UTS). Semoga hasilnya sesuai dengan do’a, usaha dan harapan teman-teman. Khusus untuk MK Wawasan Kemaritiman, kalian akan diberi dua soal; satu dari Bapak Muh. Saleh Qadri, S.Pi, M.Si dan satunya lagi dari saya. Soal dari Pak Qadri berupa soal tertulis, sementara soal dari saya melalui sistem online.

Adapun petunjuk pelaksanaan UTS dengan sistem online dari saya adalah sebagai berikut:

  1. Semua Kelas Kehutanan mengikuti UTS MK Wawasan Kemaritiman melalui web learning Schoology.com.
  2. Pengerjaan soal saya dapat teman-teman mulai sesaat setelah kalian merampungkan seluruh soal Pak Qadri. Kalian HANYA diperkenankan mengikuti ujian saya SETELAH kalian mengembalikan lembar jawaban Pak Qadri kepada pengawas ujian. Waktu pengerjaan soal-soal saya telah diset mulai pukul 08.00 WITA – 09.50 WITA.
  3. Setiap soal memiliki waktu jawab masing-masing. Ada soal yang waktu jawabnya hanya 1 menit, 2 atau 3 menit hingga maksimal 20 menit untuk satu soal. Anda tidak perlu menunggu waktu tersebut selesai untuk melangkah ke soal berikutnya atau dengan kata lain, begitu anda sudah menjawab soal dimaksud, meskipun anda masih punya waktu tersisa, anda bisa langsung menekan tombol NEXT/selanjutnya.
  4. Bila kalian mengalami kendala teknis, JANGAN PANIK. Coba restart browser anda, lalu mulai login seperti biasa. ANDA masing-masing memiliki dua kali kesempatan untuk mengerjakan soal ujian dari saya. NILAI yang akan saya ambil adalah nilai rata-rata dari dua kali percobaan yang anda lakukan. NAMUN, bila anda merasa YAKIN dengan jawaban-jawaban pada percobaan PERTAMA, saya sarankan agar ANDA tidak lagi menggunakan kesempatan kedua.
  5. Bila masih menemui kendala teknis, minta tlg kepada pengawas ruangan untuk memanggil saya. Bila saya ada waktu luang, saya akan coba membantu anda. Bila tidak, belajar untuk menerima kondisi anda sebab SEKARANG adalah UTS, bukan perkuliahan lagi.
  6. BILA anda terbukti melakukan setiap bentuk kecurangan, maka nilai UTS anda otomatis 0.

Demikian petunjuk pelaksanaan UTS MK Wawasan Kemaritiman. Sukses untuk kita bersama.

Salam Hangat,

Petunjuk Pelaksanaan UTS MK Ekosistem Wilayah Pesisir, Laut & Pulau-Pulau Kecil

Senin Malam, 8 April 2019

Pertama-tama, saya mengucapkan Barokallahu Fiikum kepada teman-teman yang sejak pagi mengikuti Ujian Tengah Semester (UTS). Semoga hasilnya sesuai dengan do’a, usaha dan harapan teman-teman. Khusus untuk MK Ekosistem Pesisir, Laut dan Pulau-Pulau Kecil, kalian akan diberi dua soal; satu dari Bapak Herlan Hidayat, S.Pi, M.Sc/Muh. Saleh Qadri, S.Pi, M.Si dan satunya lagi dari saya. Soal dari Pak Herlan/Pak Qadri berupa soal tertulis, sementara soal dari saya melalui sistem online.

Adapun petunjuk pelaksanaan UTS dengan sistem online dari saya adalah sebagai berikut:

  1. Kelas Ilmu Lingkungan A, B dan C Angkatan 2017 mengikuti UTS MK ini melalui platform SCHOOLOGY sesuai dengan jadual resmi yang telah dikeluarkan pihak fakultas yaitu Selasa, 9 April 2019 di ruang C1.4, C1.5 dan C1.6. Sementara itu untuk kelas Ilmu Lingkungan B dan C angkatan 2018, pelaksanaan UTS untuk MK ini akan dilaksanakan pada hari dan waktu yang akan diumumkan kemudian.
  2. Pengerjaan soal saya dapat teman-teman mulai sesaat setelah kalian merampungkan seluruh soal Pak Herlan/Pak Qadri. Kalian HANYA diperkenankan mengikuti ujian saya SETELAH kalian mengembalikan lembar jawaban pak Herlan/Pak Qadri kepada pengawas ujian. Waktu pengerjaan soal-soal saya telah diset mulai pukul 08.00 WITA – 09.45 WITA.
  3. Setiap soal memiliki waktu jawab masing-masing. Ada soal yang waktu jawabnya hanya 1 menit, 2 atau 3 menit hingga maksimal 15/20 menit untuk satu soal. Anda tidak perlu menunggu waktu tersebut selesai untuk melangkah ke soal berikutnya atau dengan kata lain, begitu anda sudah menjawab soal dimaksud, meskipun anda masih punya waktu tersisa, anda bisa langsung menekan tombol NEXT/selanjutnya.
  4. Bila kalian mengalami kendala teknis, JANGAN PANIK. Coba restart browser anda, lalu mulai login seperti biasa. ANDA masing-masing memiliki dua kali kesempatan untuk mengerjakan soal ujian dari saya. NILAI yang akan saya ambil adalah nilai rata-rata dari dua kali percobaan yang anda lakukan. NAMUN, bila anda merasa YAKIN dengan jawaban-jawaban pada percobaan PERTAMA, saya sarankan agar ANDA tidak lagi menggunakan kesempatan kedua.
  5. SAYA sangat menyarankan teman-teman mengerjakan soal UTS dari saya melalui Notebook/Laptop untuk alasan kenyamanan. Namun demikian, menggunakan Handphone juga tidak dilarang.
  6. Bila masih menemui kendala teknis, minta tlg kepada pengawas ruangan untuk memanggil saya. Bila saya ada waktu luang, saya akan coba membantu anda. Bila tidak, belajar untuk menerima kondisi anda sebab SEKARANG adalah UTS, bukan perkuliahan lagi.
  7. BILA anda terbukti melakukan setiap bentuk kecurangan, maka nilai UTS anda otomatis 0.

Demikian petunjuk pelaksanaan UTS MK Ekosistem Pesisir, Laut dan Pulau-Pulau Kecil. Sukses untuk kita bersama.

Salam Hangat,

Pak Amar

Petunjuk Pelaksanaan UTS MK Wawasan Kemaritiman

Senin, 8 April 2019

Pertama-tama, saya mengucapkan Barokallahu Fiikum kepada teman-teman yang mulai besok pagi mengikuti Ujian Tengah Semester (UTS). Semoga hasilnya sesuai dengan do’a, usaha dan harapan teman-teman. Khusus untuk MK Wawasan Kemaritiman, kalian akan diberi dua soal; satu dari Bapak Herlan Hidayat, S.Pi, M.Sc dan satunya lagi dari saya. Soal dari Pak Herlan berupa soal tertulis, sementara soal dari saya melalui sistem online.

Adapun petunjuk pelaksanaan UTS dengan sistem online dari saya adalah sebagai berikut:

  1. Kelas Ilmu Lingkungan A dan C mengikuti UTS MK Wawasan Kemaritiman melalui web learning Schoology.com. Sementara itu, kelas Ilmu Lingkungan B melalui Google Classroom.
  2. Pengerjaan soal saya dapat teman-teman mulai sesaat setelah kalian merampungkan seluruh soal Pak Herlan. Kalian HANYA diperkenankan mengikuti ujian saya SETELAH kalian mengembalikan lembar jawaban pak Herlan kepada pengawas ujian. Waktu pengerjaan soal-soal saya telah diset mulai pukul 08.00 WITA – 09.50 WITA.
  3. Setiap soal memiliki waktu jawab masing-masing. Ada soal yang waktu jawabnya hanya 1 menit, 2 atau 3 menit hingga maksimal 20 menit untuk satu soal. Anda tidak perlu menunggu waktu tersebut selesai untuk melangkah ke soal berikutnya atau dengan kata lain, begitu anda sudah menjawab soal dimaksud, meskipun anda masih punya waktu tersisa, anda bisa langsung menekan tombol NEXT/selanjutnya.
  4. Bila kalian mengalami kendala teknis, JANGAN PANIK. Coba restart browser anda, lalu mulai login seperti biasa. ANDA masing-masing memiliki dua kali kesempatan untuk mengerjakan soal ujian dari saya. NILAI yang akan saya ambil adalah nilai rata-rata dari dua kali percobaan yang anda lakukan. NAMUN, bila anda merasa YAKIN dengan jawaban-jawaban pada percobaan PERTAMA, saya sarankan agar ANDA tidak lagi menggunakan kesempatan kedua.
  5. Bila masih menemui kendala teknis, minta tlg kepada pengawas ruangan untuk memanggil saya. Bila saya ada waktu luang, saya akan coba membantu anda. Bila tidak, belajar untuk menerima kondisi anda sebab SEKARANG adalah UTS, bukan perkuliahan lagi.
  6. BILA anda terbukti melakukan setiap bentuk kecurangan, maka nilai UTS anda otomatis 0.

Demikian petunjuk pelaksanaan UTS MK Wawasan Kemaritiman. Sukses untuk kita bersama.

Salam Hangat,

Pak Amar